Dari Abu Amr atau Abu Amrah ra; Sufyan bin Abdullah Atsaqafi r.a. berkata, Aku berkata, Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan menanyakannya kepada seorangpun selain padamu. Rasulullah menjawab, “Katakanlah, saya beriman kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)
Sebuah kata yg terdiri dari 9 huruf dalam bahasa indonesia, sedikit memang, mudah di ucapkan lagi dan gampang diinget coz banyak orang namanya ISTIQOMAH (temen q juga ada yg namanya istiqomah-red), so kita akan mudah banget mengingat kata itu. Tapi, benarkah kata ini benar-benar sebuah kata yg mudah???Sebuah pertanyaan dan pernyataan klasik yang sering kita dengar.
Sikap istiqomah ini perlu kembali kita selami lebih dalam, coz kata ini memang sangat dalam maknannya dan sangat besar efeknya apa lagi bagi kita-kita yg ngaku aktivis dakwah. Melihat fenomena saat ini saat kita sedang menuju mihwar daulah, utamanya fenomena para aktivis dakwah measakan bahwa beban dakwah dirasa semakin berat, fenomena itu adalah futur permanen(Saya lebih suka pake kata itu). Apakah benar karena akselerasi dakwah yang begitu cepat sehingga kita merasa tak mampu mengikutinya atau hanya kita saja yang mencari-cari alasan untuk mundur dari dakwah dan memilih menjadi “Mantan Aktivis”??
Wahai ikhwah, saudara ku yang kucintai karena Allah, bahwa sesunggunya Allah tidak membebani hambanya melebihi kemampuannya dan sesungguhnya pada setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Sebuah khabar dari Allah yang akan selalu memotivasi kita untuk selalu istiqomah pada jalan-Nya dan tentunya Jannah-Nya lah yang menjadi imbalannya. Fenomena futur permanennya para aktivis dakwah memang banyak seba dan alasannya tapi kalau kita mengambil inti dari semua akar permasalahan itu adalah pada kekokohan pemahaman aqidah kita atau bisa dikatakan tentang keimanan kita yang perlu kembali kita koreksi. Maka kembali kita menilik pada ilmu-ilmu kita dan amalan-amalan yg merupakan implementasi dari ilmu-ilmu kita.
Kalau kita mencoba mengkaji dari hadist Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam yg dituliskan diawal atikel ini maka ada banyak hal yang akan kita fahami tentang kata “istiqomah” ini. Secara umum hadist ini berbicara dua kata yang saling berkaitan dan merupakan hal besar pada urusan dien ini yaitu Iman dan Istiqomah. Iman merupakan implementasi dari tauhid yang merupakan inti ajaran Islam, sedangkan istiqamah merupakan implementasi dari pengamalan aspek-aspek tauhid dalam kehidupan nyata. Dan kedua hal tersebut terangkum dalam hadits singkat ini, melalui pertanyaan seorang sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.
Makna Hadits
Dari pertanyaan sahabat di atas, yaitu Sufyan bin Abdillah Al-Tsaqafi r.a. tersirat bahwa iman dan istiqamah memiiki urgensitas yang tidak dapat digantikan dengan nilai-nilai lainnya dalam kehidupan. Ini terlihat dari pertanyaan beliau kepada rasulullah saw., ‘Wahai Rasulullah, katakanlah padaku satu perkataan yang aku tidak perlu lagi bertanya pada orang lain selain padamu.’ Kemudian rasulullah saw. menjawabnya dengan dua hal yang terangkai menjadi satu: istiqamah dan iman.
Dua hal ini merupakan aspek yang sangat penting dalam keislaman seseorang. Karena Iman (sebagaimana digambarkan di atas) merupakan pondasi keislaman seseorang bagaimanapun ia. Tanpa Iman semua amal manusia akan hilang sia-sia. Sehingga tidak mungkin istiqamah tegak tanpa adanya nilai-nilai keimanan. Penggambaran Rasulullah saw. dalam hadits ini, seiring sejalan sekaligus menguatkan firman Allah swt. dalam Al-Qur’an tentang istiqamah (QS. Fusshilat/ 41 : 30).
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”
Dari pekataan para sahabat dan ulama-ulama tentang sitiqomah serta dalil-dalil yg ada dapat kita ambil kesimpulan bahwa istiqomah adalah implementasi dari nilai-nilai keimanan kepada Allah secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari baik secara lahiriyah maupun bathiniyah. Sehingga jika diimplemenatasikan dalam kehidupan dakwah kontemporer; seorang kader yang istiqomah, ia akan tetap konsisten menekuni jalan da’wah, apapun resiko dan konsekuensi yang harus dihadapinya. Karena kita tahu dan sudah mendapatkan ilmunya bahwa dakwah adalah bagian dari hal yg Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam perintahkan pada kita. Sehingga saat kita mulai menjauh dari jalan dakwah ini segera kita ber-istigfar dan meminta perlindungan dari Allah swt. Sebab kita semua tahu bahwa diri ini tetaplah manusia yang tak lepas dari dosa dan salah, sekali lagi bukan berarti saat kita istiqomah berarti jalan kita selalu lurus tanpa kesalahan. Hal ini seperti yg Allah firmankan :
QS. Fushilat/ 41 : 6 :
“Katakanlah: ‘Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya).”
Terlebih ketika mengarungi jalan dakwah yang penuh lubang dan duri, serta masafah (baca ; jarak tempuh) yang seolah bagaikan lautan tiada bertepi. Di sana banyak manusia-manusia yang beragam asal-usulnya, berbeda latar belakangnya; baik dalam keilmuan, pengalaman, cara pandang dan lain sebagainya. Tentulah hal ini memerlukan keistiqamahan dalam mengarunginya. Karena benturan, perbedaan ataupun kesilapan diantara sesama aktivis dakwah pasti terjadi.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. bersabda, Dari Anas bin Malik ra, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda, “Semua anak cucu adam berbuat kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah, adalah mereka-mereka yang bertaubat.” (HR.Tirmidzi).
Mari kawan-kawan ku, ikhwah fillah, saya mengajak pada diri sendiri yang juga maasih banyak maksiat ini (astagfiullah, semoga Allah swt. mengampuni) dan saudara-saudara ku para aktivis dakwah untuk kembali mengingat Allah swt. pada setiap langkah kita. Semoga Allah mengampuni kesalahan-kesalahan kita dan meneguhkan kita dalam jalan dakwah ini. Bagi saudaraku yg sedang merasakan ke-futur-an mari kita kembalikan semuanya pada Allah swt dan cobalah kembali pada barisan dakwah ini. Karena kita lihat bahwa jika ada banteng liar yg keluar dari kumpulannya maka ia akan dilirik oleh para pemangsa dan mudah untuk dijatuhkan walau ia sekuat apapun. Karena si Pemangsa tahu bagaimana cara menjatuhkannya.
sebelum mengakhiri atikel ini, ada beberapa solusi bagaimana ikhtiar kita bisa istiqomah.How??
- Mengikhlaskan niat semata-mata hanya mengharap Allah dan karena Allah swt.
- Bertahap dalam beramal. Dalam artian, ketika menjalankan suatu ibadah, kita hendaknya memulai dari sesuatu yang kecil namun rutin.
- Diperlukan adanya kesabaran.
- Istiqamah tidak dapat direalisasikan melainkan dengan berpegang teguh terhadap ajaran Allah swt. Allah berfirman (QS. 3 : 101) :”Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
- Istiqamah juga sangat terkait erat dengan tauhidullah.
- Memahami hikmah atau hakekat dari ibadah ataupun amalan yang kita lakukan tersebut.
- Istiqamah juga akan sangat terbantu dengan adanya amal jama’i. Karena dengan kebersamaan dalam beramal islami, akan lebih membantu dan mempermudah hal apapun yang akan kita lakukan. Jika kita salah, tentu ada yang menegur. Jika kita lalai, tentu yang lain ada yang mengnigatkan.
- Memperbanyak membaca dan mengupas mengenai keistiqamahan para salafuna shaleh dalam meniti jalan hidupnya, kendatipun berbagai cobaan dan ujian yang sangat berat menimpa mereka.
- Memperbanyak berdoa kepada Allah, agar kita semua dianugerahi sifat istiqamah.
Waullahu’alam,….Semoga menjadi inspirasi dalam kita mempebaiki diri dan masyarakat ini dan tentunya dalam kita berproses untuk menuju Jannah-Nya. Begitulah tabi’at jalan dakwah ini, so KEEP SMILE!!!!
maraji’ : Al-Qur’an
Artikel dakwatuna.com:”Istiqomah di Jalan Dakwah