Oleh: ariadisasmita | Juli 6, 2010

~Jika ku tak memilikimu…..~

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.

Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan.. Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis.

Sumber: Salim A Fillah. Jalan Cinta Para Pejuang. 2008. Yogyakarta: Pro-U Media.

Oleh: ariadisasmita | Juni 29, 2010

Istiqomah

Dari Abu Amr atau Abu Amrah ra; Sufyan bin Abdullah Atsaqafi r.a. berkata, Aku berkata, Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan menanyakannya kepada seorangpun selain padamu. Rasulullah menjawab, “Katakanlah, saya beriman kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)

Sebuah kata yg terdiri dari 9 huruf dalam bahasa indonesia, sedikit memang, mudah di ucapkan lagi dan gampang diinget coz banyak orang namanya ISTIQOMAH (temen q juga ada yg namanya istiqomah-red), so kita akan mudah banget mengingat kata itu. Tapi, benarkah kata ini benar-benar sebuah kata yg mudah???Sebuah pertanyaan dan pernyataan klasik yang sering kita dengar.

Sikap istiqomah ini perlu kembali kita selami lebih dalam, coz kata ini memang sangat dalam maknannya dan sangat besar efeknya apa lagi bagi kita-kita yg ngaku aktivis dakwah. Melihat fenomena saat ini saat kita sedang menuju mihwar daulah, utamanya fenomena para aktivis dakwah measakan bahwa beban dakwah dirasa semakin berat, fenomena itu adalah futur permanen(Saya lebih suka pake kata itu). Apakah benar karena akselerasi dakwah yang begitu cepat sehingga kita merasa tak mampu mengikutinya atau hanya  kita saja yang mencari-cari alasan untuk mundur dari dakwah dan memilih menjadi “Mantan Aktivis”??

Wahai ikhwah, saudara ku yang kucintai karena Allah, bahwa sesunggunya Allah tidak membebani hambanya melebihi kemampuannya dan sesungguhnya pada setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Sebuah khabar dari Allah yang akan selalu memotivasi kita untuk selalu istiqomah pada jalan-Nya dan tentunya Jannah-Nya lah yang menjadi imbalannya. Fenomena futur permanennya para aktivis dakwah memang banyak seba dan alasannya tapi kalau kita mengambil inti dari semua akar permasalahan itu adalah pada kekokohan pemahaman aqidah kita atau bisa dikatakan tentang keimanan kita yang perlu kembali kita koreksi. Maka kembali kita menilik pada ilmu-ilmu kita dan amalan-amalan yg merupakan implementasi dari ilmu-ilmu kita.

Kalau kita mencoba mengkaji dari hadist Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam yg dituliskan diawal atikel ini maka ada banyak hal yang akan kita fahami tentang kata “istiqomah” ini. Secara umum hadist ini berbicara dua kata yang saling berkaitan dan merupakan hal besar pada urusan dien ini yaitu Iman dan Istiqomah. Iman merupakan implementasi dari tauhid yang merupakan inti ajaran Islam, sedangkan istiqamah merupakan implementasi dari pengamalan aspek-aspek tauhid dalam kehidupan nyata. Dan kedua hal tersebut terangkum dalam hadits singkat ini, melalui pertanyaan seorang sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.

Makna Hadits Baca Lanjutannya…

Oleh: ariadisasmita | Juni 30, 2008

Assalamu’alaikum

Selamat datang di Blog saya yang baru aja di buat

semoga nanti blog ini bisa bermanfaat bagi saya dan pengunjung

maaf jka masih banyak kekurangan

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.